Sabtu, 26 Juli 2014

Insan Yang Dibutakan

Ketika waktu menelan hidup kita mentah-mentah,
Ketika itu pula terlahir cara Tuhan mempersembahkan cinta.
Kedukaan di dunia adalah segelintir dari buih-buih kesyukuran yang cacat.
Ingatlah oleh siapa kamu dihayatkan!
Juga kepada siapa kelak kamu dikembalikan!
Ataukah kamu memang tak terlalu fasih memutar otak?
Ke mana langkahmu selama ini tertuju?
Riuh apa yang yang masuk menggetarkan gendang telingamu?
Atau apa saja tutur yang sekalimat demi kalimat bermunculan keluar dari mulutmu?
Ku harap, setidaknya kau masih bersujud setiap harinya.

Memang gerak yang kau bina adalah geletar yang membahagiakan,
Namun apa yang dia catat haruslah lebih dari sekedar coretan-coretan abstrak.

Bukankah penanya sudah terbuat dari emas dan tintanya dari air mata doa?
Bukankah alasnya sudah berasal dari surga?
Apa yang kamu pikirkan hingga kamu memilih tempat yang menggerahkan?
Bukankah kesejukan lebih mendamaikan?
Begitulah aku menyebut insan yang dibutakan pada keterikatan duniawinya.
Bukan mengingat di mana ruhnya kelak dibangkitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar