Sabtu, 26 Juli 2014

Insan Yang Dibutakan

Ketika waktu menelan hidup kita mentah-mentah,
Ketika itu pula terlahir cara Tuhan mempersembahkan cinta.
Kedukaan di dunia adalah segelintir dari buih-buih kesyukuran yang cacat.
Ingatlah oleh siapa kamu dihayatkan!
Juga kepada siapa kelak kamu dikembalikan!
Ataukah kamu memang tak terlalu fasih memutar otak?
Ke mana langkahmu selama ini tertuju?
Riuh apa yang yang masuk menggetarkan gendang telingamu?
Atau apa saja tutur yang sekalimat demi kalimat bermunculan keluar dari mulutmu?
Ku harap, setidaknya kau masih bersujud setiap harinya.

Memang gerak yang kau bina adalah geletar yang membahagiakan,
Namun apa yang dia catat haruslah lebih dari sekedar coretan-coretan abstrak.

Bukankah penanya sudah terbuat dari emas dan tintanya dari air mata doa?
Bukankah alasnya sudah berasal dari surga?
Apa yang kamu pikirkan hingga kamu memilih tempat yang menggerahkan?
Bukankah kesejukan lebih mendamaikan?
Begitulah aku menyebut insan yang dibutakan pada keterikatan duniawinya.
Bukan mengingat di mana ruhnya kelak dibangkitkan.

Aku Yang Tak Sempurna

Sungguh aku tak ingin beranjak dari tempatku terbaring disemalam yang empuk.
Aku tak ingin bersusah payah terjatuh dari ketinggian,
Menyeret-nyeretkan kaki,
Ataupun mencengkeramkan jemariku kemudian perlahan melangkah.
Aku lelah diperbudak oleh ketidak mahiranku kala menderap.
Aku malu di hadapan teman-temanku, sahabat-sahabatku, juga keluarga-keluargaku yang mulutnya berlumuran ludah mereka karena tak henti-hentinya mengalirkan semangatnya kepadaku,
Hanya untuk orang cacat sepertiku.

Apakah kalian tidak merasa jemu?
Apakah kalian tidak merasa bosan?
Bahkan aku saja tidak pernah melihat wajah-wajah kalian.
Begitu mustahil bagiku masuk ke dunia kalian.
Aku hanya bermain dan berputar-putar setiap waktu di dalam duniaku sendiri, yaitu di alam fantasiku.

Aku memang tak terlalu fasih mendengar,
Namun ketahuilah bahwa aku masih mampu untuk mengkhayal.
Demikian aku masih dapat bermimpi dan melangkah mempernyatakan mimpi.

Aku...
Aku manusia yang tak sempurna,
Namun inginku meraih merdeka masa depanku kurasa lebih dari sekedar kuat.
Aku sosok pemimpi seperti mereka...
Aku pengharap seperti mereka...
Demikian aku pendoa dan pekerja keras seperti mereka juga.
Hak mereka adalah sama ataupun setara denganku juga. 

Aku Memujimu

Kini aku menyebut waktu sebagai rasi bintang di angkasa yang tak henti-hentinya berkedip.
Tak ada yang mengira bahwa waktu belum berhenti jika bintang-bintang masih berpijaran.
Seperti kamu, dirimu yang tak henti-hentinya menyinari hidupku adalah setumpukan permata yang amat membahagiakan.
Terkadang aku dibuat merinding oleh tingkah jeniusmu ketika lekuk demi lekuk menari dengan lincahnya. 
Aku senang melihat pertunjukanmu yang selalu terasa hebat.
Demikian aku memuji setiap hal yang kau lakukan.
Aku curiga kau menghipnotis aku dalam dunia yang terlihat berbeda setelah kehadiranmu,
Sebab serasa bumi bagai gumpalan bangkai ketika kau pergi.
O2 pun seakan menjelma menjadi bau amis, dan lantang nada berubah menjadi jeritan yang tak henti-hentinya memecah harmoni.