Apakah ini yang disebut hidup?
Sedangkan aku tak merasa bahwa aku benar-benar hidup!
Inilah Hidupku,
Kumpulan serpihan-serpihan kecil yang belum terangkai dengan benar
Aku merasa bahwa hanya kakiku, tanganku, dan tubuhku yang bergerak,
Namun tak sejalan dengan hati dan fikiranku
Sempat terfikir kala itu aku sedang bermimpi!
Sempat terfikir pula bahwa aku tak pernah menapaki bumi
Sebab setiap derap kakiku yang melangkah,
Hatiku tetap diam mematung,
Serupa remote control tanpa kendali
Itulah setumpuk kisahku yang berantakan
Kisah-kisah tak beraturan yang tak pernah meraih asa setiap indra yang terpancar
Hancur, Kacau, Rusak, dan Remuk
Seperti hantaman dahsyat yang merobohkan deretan dinding yang kokoh
Ya,
Ini seperti hidup yang tak pernah hidup
Serupa hidup dalam kematian
Serupa terkekang, dan terjebak dalam penjara beton yang terasa dingin
Sampai pada akhirnya aku mati rasa
Kemudian perlahan sekarat dan mati tanpa pembunuh
Tergeletak dan sekejap menjelma menjadi bangkai tanpa melati
Membusuk, dipenuhi belatung-belatung liar besertakan belati
Melahap tubuhku tanpa sisa secuil pun arteri
Karya: Yoga Adia
Rabu, 25 Desember 2013
Sabtu, 21 Desember 2013
Ibuku Malaikat Duniaku
Ada yang tampak berbeda pagi ini
Tak seperti pagi biasanya yang berhiaskan sepercik sinar surya yang perlahan mulai terpancar
Melukis indah cetar sinar, memulai kehidupan.
Surya yang selalu penuh makna,
Yang datang memberi kehangatan.
Pagi ini...
Surya tak hadir menemani esok
Hanya terlihat pandangan kelabu yang memberi kesan tak bersahabat dengan alam
Menyebarkan benih-benih duka setiap jengkal nafas yang terhembus
Besertakan tetes demi tetes air langit yang jatuh laksana permata
Namun tidak sesuram itu!
Kedua kaki malaikat duniaku yang bagai surga terus saja melangkah
Terus saja menempuh esok dengan penuh semangat berkarya
Tetap beranjak menerobos dinginnya esok tanpa banyak tanda tanya!
Dialah sosok pekerja keras yang selalu aku kagumi,
Sosok malaikat duniaku yang mengajarkanku arti bermimpi,
Yang mengajarkanku arti bertahan hidup melalui teladannya.
Ya, Dialah Ibu.
Ibuku....
Yang rela membuang hari-hari bahagianya demi aku yang disayanginya,
Yang rela terhadap segalanya agar aku dapat bahagia,
Agar kelak aku berhasil meraih atas apa yang aku kehendaki,
Dan mendapat semua yang terbaik untukku yang dia cintai
Kaulah hidupku ibu...
Jutaan terimakasih ku ucapkan untukmu
Ribuan ayat-ayat doa kupanjatkan demi yang terbaik untukmu
Kepadamu sosok yang berharga dalam setiap hembusan nafasku
Karya: Yoga Adia
Tak seperti pagi biasanya yang berhiaskan sepercik sinar surya yang perlahan mulai terpancar
Melukis indah cetar sinar, memulai kehidupan.
Surya yang selalu penuh makna,
Yang datang memberi kehangatan.
Pagi ini...
Surya tak hadir menemani esok
Hanya terlihat pandangan kelabu yang memberi kesan tak bersahabat dengan alam
Menyebarkan benih-benih duka setiap jengkal nafas yang terhembus
Besertakan tetes demi tetes air langit yang jatuh laksana permata
Namun tidak sesuram itu!
Kedua kaki malaikat duniaku yang bagai surga terus saja melangkah
Terus saja menempuh esok dengan penuh semangat berkarya
Tetap beranjak menerobos dinginnya esok tanpa banyak tanda tanya!
Dialah sosok pekerja keras yang selalu aku kagumi,
Sosok malaikat duniaku yang mengajarkanku arti bermimpi,
Yang mengajarkanku arti bertahan hidup melalui teladannya.
Ya, Dialah Ibu.
Ibuku....
Yang rela membuang hari-hari bahagianya demi aku yang disayanginya,
Yang rela terhadap segalanya agar aku dapat bahagia,
Agar kelak aku berhasil meraih atas apa yang aku kehendaki,
Dan mendapat semua yang terbaik untukku yang dia cintai
Kaulah hidupku ibu...
Jutaan terimakasih ku ucapkan untukmu
Ribuan ayat-ayat doa kupanjatkan demi yang terbaik untukmu
Kepadamu sosok yang berharga dalam setiap hembusan nafasku
Karya: Yoga Adia
Langganan:
Postingan (Atom)